Pesan Direktur Penelitian: Maret 2017

Posted on March 15, 2017

Pertumbuhan dan awal-awal yang baru

Dalam beberapa minggu sejak berita kami yang terbaru, Pusat ini sibuk sekali seperti biasanya, dan tentunya beberapa minggu itu juga terasa menyibukkan bagi banyak orang dalam ruang pembangunan hubungan Australia-Indonesia. Saya juga menyinggung sedikit tentang kunjungan dan pertemuan Presiden dengan Perdana Menteri serta Indonesia Australia Business Week.

Kunjungan-kunjungan lain juga sudah berlangsung, dan para peneliti kami sibuk menggerakkan proyek-proyek mereka di kedua negara.

Dan, sayangnya, kami harus mengucapkan selamat berpisah pada dua anggota staf yang berharga, Katrina Reid dan Megan Power, karena mereka mengejar kesempatan karir dan pribadi lainnya —kalau untuk Megan, termasuk menjalankan penelitiannya sendiri sebagai mahasiswa PhD. Keduanya telah menjadi inti dari tim peneliti dan akan dirindukan oleh banyak peneliti yang telah mereka bantu di kedua negara dengan semangat dan sikap profesionalisme yang paling tinggi.

Namun, kami juga menyambut beberapa anggota baru ke komunitas peneliti AIC: Christianne O’Donnell sebagai Koordinator Kelompok Kesehatan (Health Cluster) yang baru diunjuk dan Dr Dwi Yuliantoro sebagai petugas penghubung (Liaison Officer) yang baru ditunjuk untuk Kelompok Air Perkotaan (Urban Water Cluster). Kami merasa senang sekali dapat bekerja dengan mereka berdua, dan karena mereka akan berbagi keahlian dengan kolega-kolega mereka yang baru.

Peran para koordinator dan petugas penghubung itu penting sekali dalam menjaga banyak tingkatan di Pusat ini. Saya akan berfokus pada hal-hal itu di berita berikutnya.

Kalau berbicara mengenai bantuan penelitian yang berharga, kami juga telah menugaskan Science in Public untuk meneruskan bantuan komunikasi mereka hingga Desember 2017. Mereka akan terus bekerja sama dengan Anda mengenai rencana-rencana untuk setiap kelompok (cluster). Mereka ingin sekali merayakan penelitian yang Anda sedang kerjakan dengan menolong Anda berbagi berita dengan para pemangku kepentingan dan media. Jangan ragu-ragu memberi tahu mereka kapan saja tentang penelitian yang Anda rasa perlu mendapat perhatian media atau pengakuan lainnya, rencana untuk acara atau kegiatan, kejadian penting lainnya, atau nasihat tentang komunikasi.

Pada edisi ini, kami akan membicarakan contoh-contoh proyek energi terbarukan yang “ikonis”, pendanaan dari lembaga amal dunia untuk penelitian air perkotaan, dan peneliti-peneliti infrastruktur memasuki perencanaan solid dengan mitra-mitra di Indonesia. Pada akhirnya, tamu untuk Next Gen Speaks kali ini adalah anggota tim AIC dari Indonesiaa, Ghian Tjandaputra, yang menulis tentang bagaimana kolaborasi penelitian antara Australia dan Indonesia dapat menghasilkan terobosan-terobosan bersama yang saat ini tidak dapat dibayangkan!

Anda dapat membaca lebih lanjut tentang kegiatan-kegiatan ini di bawah ini.

Di berita kali ini:

  1. Para peneliti bidang keberlanjutan (sustainability) diberi $27 juta untuk memperbaiki masalah air dan limbah
  2. Bagaimana cara infrastruktur bertahan selama gempa bumi? Menilai jembatan dan lain-lain: para peneliti infrastruktur bersiap-siap untuk tahun 2017.
  3. Laporan Pulau Ikonis Sumba: membuat bahan terbarukan pengganti menjadi kenyataan di Indonesia
  4. Pusat Anda dalam berita
  5. Acara-acara mendatang
  6. Next Gen Speaks: Berpartisipasi untuk mendukung penelitian
  7. Peluang untuk pendanaan
  8. Apa yang ingin kami dengar dari ANDA

Teruslah membaca, dan jangan lupa ikuti https://twitter.com/AusIndResearch@AusIndResearch dan https://twitter.com/AusIndCentre@AusIndCentre untuk mendapat semua berita terbaru selagi masih hangat.

Salam,

Richard Price, Direktur Penelitian, The Australia-Indonesia Centre

 Para peneliti bidang keberlanjutan (sustainability) diberi $27 juta untuk memperbaiki masalah air dan limbah

Sebuah tim yang dipimpin oleh Profesor Rebekah Brown (ketua bersama Kelompok Air Perkotaan dan Direktur Institut Pengembangan Berkelanjutan Monash) telah menerima $14 juta dari Wellcome Trust untuk digunakan dalam perbaikan akses ke air bersih dan pembuangan limbah di tempat-tempat pemukiman informal, atau ‘slum [tempat kumuh]’

Penganugerahan Our Planet Our Health dari Wellcome Trust akan dilengkapi dengan $13 juta tambahan dari Asian Development Bank untuk membiayai beban-beban infrastruktur dan konstruksi.

Revitalisasi perkotaan tersebut akan melibatkan pekerjaan selama lima tahun pada 24 situs di Indonesia dan Fiji, yang terpilih sebagai perwakilan tipe tantangan pengembangan yang dihadapi di Asia-Pasifik. Penelitian ini sejalan dengan proyek-proyek MSDI Urban Water yang didanai oleh The Australia-Indonesia Centre [Pusat Australia-Indonesia].

Setelah berkonsultasi dengan masyarakat di setiap pemukiman, para insinyur, ahli sosiologi, arsitek, ahli ekonomi, ahli kesehatan masyarakat dan ahli biologi akan memperkenalkan serangkaian inisiatif, seperti:

  • penilaian dan survei masing-masing tempat pemukiman, termasuk membuat model risiko banjir dan mengidentifikasi habitat-habitat yang mendukung berkembangnya nyamuk.
  • perbaikan-perbaikan penghunian
  • air yang terkontaminasi kotoran manusia dimasukkan ke biofilter dan lahan basah permukaan tanah untuk dibersihkan
  • tangki-tangki penampung air hujan
  • toilet-toilet untuk kakus pemukiman atau kakus umum
  • tangki septik bersama
  • penampungan dan pembersihan air dari hujan badai dan air limbah untuk dipakai dalam agrikultur perkotaan
  • pembatasan kontaminasi lingkungan akibat hewan ternak

Dr. Bambang Susantono, Wakil Presiden (bidang Manajemen Ilmu Pengetahuan dan Pengembangan Keberlanjutan) dari Asian Development Bank, mengatakan pada pernyataan resmi untuk pers bahwa: “Karena kota-kota Asia berkembang terus dengan tambahan 120.000 orang per harinya, dan banyak yang akhirnya terdampar di kawasan-kawasan kumuh, kita sangat membutuhkan solusi-solusi baru untuk dapat menyediakan air dan sanitasi di tempat-tempat ADB beroperasi.

“Penelitian ini akan memberi proof-of-concept [bukti bekerjanya sebuah konsep] untuk pendekatan-pendekatan baru yang peka akan kebutuhan air pada revitalisasi kawasan kumuh di mana sistem perkotaan besar dan terpusat atau layanan pedesaan tersebat bukanlah yang paling cocok.”

Tim tersebut termasuk Professor Tony Wong, CEO Cooperative Research Centre for Water Sensitive Cities [Pusat Penelitian Kooperatif untuk Kota-kota yang Tanggap akan Kebutuhan Air], dan Professor Karin Leder, Kepala Epidemiologi Penyakit Menular di Sekolah Kesehatan Masyarakat dan Pengobatan Pencegah di Monash, serta institusi-institusi rekanan termasuk Universitas Stanford dan Emory (keduanya di AS) dan The University of Melbourne.

Pengumuman tersebut dilakukan oleh Josh Frydenberg, Menteri Australia untuk bidang Lingkungan dan Energi, di Monash University.

Bacalah cerita pekerjaan tersebut, yang juga menampilkan Rebekah, di situs The Guardian di sini.

Menilai jembatan dan lain-lain: para peneliti infrastruktur bersiap-siap untuk tahun 2017

Pada tanggal 13-18 Februari, para peneliti dari Kelompok Infrastruktur (Infrastructure Cluster) dari The University of Melbourne bergabung dengan para kolega mereka dari Indonesia untuk mendiskusikan rencana kegiatan-kegiatan dan penyebaran data untuk setahun ke depan.

Fasilitasi efisien untuk proyek infrastruktur besar, kinerja seismik infrastruktur penting di pengembangan dermaga, dan kerangka kerja penilaian kinerja struktur untuk jembatan beton sudah masuk dalam agenda.

Dr. Elisa Lumantarna, Dr. Felix Hui, dan Dr. Massoud Sofi (semuanya dari The University of Melbourne) bertemu dengan ketua bersama Dr. Hera Widyastuti dan Dr. Saut Gurning (Institut Teknologi Sepuluh Nopember), Professor Iswandi Imran dan Professor Mashyur Irsyam (Institut Teknologi Bandung), Dr. Sari Wahyuni (Universitas Indonesia), dan Professor Danang Parikesit (Universitas Gadja Mada).

Para rekan dan pemangku kepentingan yang mereka temui termasuk para perwakilan dari Pelabuhan Teluk Lamong, Dermaga Peti Kemas dan Pelindo III.

 Laporan Pulau Ikonis Sumba: membuat energi terbarukan alternatif menjadi kenyataan di Indonesia

Faktor sosial budaya dan lingkungan yang akan mempengaruhi penggunaan energi terbarukan di sembilan kecamatan di wilayah pedesaan dan terpencil di Lombok, Sulawesi Selatan dan Pulau Sumba telah dianalisis dalam Landscape Lifescape Analysis yang baru-baru ini diterbitkan oleh para peneliti Indonesia dan Australia.

Para peneliti menemukan bahwa ada risiko rendah terhadap dampak negatif pada lingkungan, modal alam, dan sistem sosial dan mata pencaharian; dan jika program tersebut berhasil dijalankan akan ada kemungkinan tinggi terhadap hasil-hasil positif untuk individu, rumah tangga dan komunitas.

Temuan-temuan ini termasuk analisis konteks dan risiko atas berbagai investasi, dan walaupun lokasi penelitiannya di Indonesia, temuan-temuan ini juga memiliki implikasi pada komunitas warga asli Australia di tempat terpencil dan komunitas kawasan tambang.

Beberapa tantangan yang telah diidentifikasikan termasuk: mengatasi persepsi-persepsi negatif akan kegagalan teknologi di masa lalu; mendorong permintaan dan menumbuhkan kesediaan untuk membayar dan merawat teknologi-teknologi baru; dan pembangunan infrastruktur fisik berkualitas tinggi di daerah-daerah yang sangat terpencil — namun tim tersebut berkesimpulan bahwa sebagian besar tantangan tersebut memiliki solusi realistis yang dapat dikelola.

Dr. Max Richter dari Kelompok Energi AIC dan Monash University adalah salah satu peneliti dan penulis laporan tersebut. Laporan tersebut melibatkan para peneliti dan praktisi dari Hivos, Winrock International, Yayasan Rumah Energi dan Village Infrastructure Angels yang bepergian bersama dan melakukan survei selama tiga minggu dari bagian barat ke timur Pulau Sumba.

Pendekatan mereka mengikutsertakan empat komponen utama di tiga wilayah di Indonesia. Komponen-komponen ini termasuk: membangun sistem pencerna biogas untuk kotoran hewan rumah tangga di tiga kecamatan di Lombok dan dua kecamatan di Sulawesi Selatan; pemasangan listrik fotovoltaik tenaga surya untuk sekolah-sekolah, termasuk penyebaran lenteran-lentera yang diisi tenaga surya untuk anak-anak sekolah dan keluarga mereka; pabrik beras dan jagung; dan kios-kios pengisi ulang tenaga surya di daerah terpencil.

Max mengatakan bahwa temuan dan rekomendasi dapat membantu memberi informasi mengenai lokasi-lokasi pedesaan dan terpencil untuk keputusan investor energi terbarukan, untuk memastikan persetujuan di tingkat lokal dan keberhasilan jangka panjang.

Laporan tersebut dipublikasikan pada 27 Februari dan merupakan salah satu dari beberapa laporan yang berhubungan dengan Sumba Iconic Island (SII) atau Pulau Ikonis Sumba. SII adalah sebuah proyek yang bertujuan untuk menciptakan “akses ke energi terbarukan (matahari, air, angin, biogas dan biomassa), yang akan memungkinkan kesejahteraan ekonomi dengan kesetaraan gender.”

Proyek ini mengusahakan agar pulau Sumba mencapai 100 persen energi terbarukan dan 95 persen pemasangan listrik keseluruhan pada tahun 2025 — demi penduduk lokal dan agar menjadi ‘ikon’ di daerah-daerah lain.

Max berkata bahwa survei di lapangan dan penulisan laporan benar-benar merupakan usaha kolaboratif, yang melibatkan ahli-ahli teknis internasional yang bekerja erat dengan penduduk setempat di Indonesia.

“Pengalaman-pengalaman dan data-data di lapangan dibicarakan bersama dan dibuatkan skema melalui lokakarya intensif selama seminggu di Jakarta, dan hasil-hasil serta pertanyaan ditempatkan dalam konteks komparasi dengan literatur yang ada,” kata Max.

Bacalah salinan laporan ini di sini.

Pusat Anda dalam berita

Sudahkah Anda atau tim penelitian Anda diberitakan akhir-akhir ini?

Kirimkan foto atau tautan ke kisah yang ingin Anda ceritakan. Kami juga akan dengan senang hati menyebarkan berita jika ada makalah atau artikel Anda yang akan diterbitkan—jadi beri tahu kami sebelumnya bila kami dapat membantu.

 Next Gen Speaks

Pada setiap edisi buletin ini, saya ingin menampilkan pandangan-pandangan seorang peneliti muda, wirausahawan/wati, administrator atau seorang warga yang prihatin dan berminat, tentang pengalaman dan aspirasi mereka terkait dengan hubungan Australia-Indonesia.

Kali ini kita akan mendengar dari Ghian Tjandaputra, Koordinator Kemitraan dan warga Indonesia di Pusat ini. Ghian merupakan pengikut setia inovator-inovator seperti Elon Musk. Ghian menulis tentang pentingnya partisipasi dalam ruang penelitian dan inovasi, dan yang saya maksud “ruang” adalah benar-benar space dalam artian kosmos!

Bacalah pemikirannya tentang bagaimana kolaborasi penelitian Australia-Indonesia dapat mengirim kita ke Mars di sini.

 Peluang untuk pendanaan

ARC dan skema-skema dana hibah Australia dan Indonesia lain yang mungkin ingin Anda pertimbangkan:

  • ARC Linkage Infrastructure, Equipment and Facilities scheme. Skema ini meliputi bantuan untuk inisiatif nasional atau internasional berskala besar. Proposal ditutup pada tanggal 5 April 2017.
  • ARC Linkage Projects. Proyek-proyek ini memberikan kesempatan agar proyek-proyek penelitian kompetitif di tingkat internasional diadakan dengan bekerja sama dengan organisasi-organisasi di luar sektor perguruan tinggi, termasuk industri. Pengumpulan proposal dilakukan dengan tenggat waktu bergulir (rolling deadline).
  • On Accelerate 3: ditujukan pada para peneliti yang memiliki bakat kewirausahaan serius! Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Acara Mendatang

15th World Congress on Public Health
3-7 April, 2017
Melbourne, Australia
Association of Southeast Asian Institutions of Higher Learning Conference
Mei 16-19, 2017
Makassar, Indonesia
Australian International Education Conference

10-13 Oktober 2017
Hobart, Australia

Tampilkan kisah-kisah Anda di buletin-buletin ini

Anda menerima buletin ini karena Anda merupakan bagian integral dari tim penelitian kami, atau merupakan pendukung kerja yang dilakukan oleh Australia-Indonesia Centre dalam bidang penelitian.

Dan karena Anda adalah bagian dari keluarga, saya ingin mendengar kabar dari Anda: jadi silakan jangan biarkan buletin ini menjadi arus informasi satu arah.

Lydia Hales dari Science in Public membantu saya membuat buletin ini. Jadi kirimi kami (Richard Price, dan lydia@scienceinpublic.com.au) informasi yang ingin Anda masukkan dan ceritakan kepada rekan-rekan Anda.

Informasi dapat berupa konferensi atau acara di mana Anda menjadi pembicara atau yang Anda hadiri, undangan untuk kolaborasi, pertanyaan yang ingin Anda tanyakan pada kolega internasional Anda, dan lain-lain.

Untuk menutup edisi ini, saya ingin mengucapkan:

Selamat, dan semoga sukses.