Mahasiswa, Inovasi dan Masyarakat

Posted on November 20, 2016 By Claudia Tyas Nugraheni

Walaupun dua bulan telah berlalu, pengalaman menjadi salah satu peserta dalam kegiatan Australia Indonesia Research Summit di bulan Agustus lalu tetap membekas dan memberikan rasa percaya diri bagi mahasiswa seperti saya untuk terus berkreasi dan berinovasi untuk negara.

“Maaf Mbak, Ibu sudah ada jadwal kegiatan selanjutnya. Jadi tidak dapat berfoto untuk saat ini.” Kata-kata tersebut dikeluarkan oleh Sekretaris Ibu Risma ketika kami memohon ijin untuk dapat berfoto dengan beliau. Siapa orang Indonesia saat ini yang tidak ingin berfoto dengan Ibu Risma? Pasti banyak mahasiswa atau pelajar seperti saya ingin sekali berfoto dengan sosok luar biasa ini. Beliau menjadi sosok wanita kuat, populer dan menjadi panutan saat ini. Populer karena keberaniannya memimpin dan merombak tatanan model pemerintahan lama, panutan karena inovasi-inovasi program yang berhasil dan membuatnya menjadi contoh di kancah nasional dan dunia internasional.

Walaupun sebagai seorang wanita, pemikiran-pemikiran beliau tidak memiliki batasan, inovasi e-health salah satunya. E-health adalah inovasi pelayanan publik milik pemerintah kota Surabaya yang ingin merombak pemikiran lama bahwa berobat di puskesmas atau rumah sakit milik daerah adalah hal yang susah. Susah karena harus datang sangat pagi demi mendapatkan antrian paling awal, susah karena harus datang ke puskesmas atau rumah sakit yang jauh dan mengantri panjang hanya untuk dapat berobat. Hal ini kadang tidak terlintas di pikiran saya atau bahkan orang-orang kota yang selalu menggunakan fasilitas kesehatan di rumah sakit swasta yang tidak pernah merasakan antri hanya demi berobat. Hal ini berbeda bila jarak dari rumah Anda ke puskesmas sepanjang 50 km atau harus ditempuh satu jam perjalanan, belum lagi bila anda sebagai penyandang disabilitas dan harus ikut mengantri. Kondisi inilah yang menjadi ide bagi Ibu Risma dan pemerintah kota menciptakan inovasi e-health.

“Tiga bahasa juga disediakan untuk mengakomodir e-health ini yaitu bahasa Jawa, Madura dan Indonesia” kata Ibu Risma dalam AIC Research Summit tanggal 22-23 Agustus 2016 di Surabaya. Karena penasarannya, saya mengakses e-health pada halaman www.ehealth.surabaya.go.id/. Dan ternyata memang benar, kalimat “Pilih jenis sarana kesehatan sing kate sampeyan gae” atau dalam bahasa Indonesia “Pilih jenis sarana kesehatan yang Anda tuju”adalah bentuk akulturasi kebiasaan dan bahasa masyarakat Jawa Surabaya untuk mempermudah masyarakat menggunakan aplikasi ini. Sisi humanis ditonjolkan dan menjadi keberhasilan dalam pendekatan aplikasi ini. Pendekatan ini pada akhirnya menjembatani pemikiran bahwa aplikasi teknologi adalah sesuatu yang rumit dan tidak mudah diakses.

Sebagai seorang mahasiswa, perjalanan dua hari pada bulan Agustus lalu di Kota Surabaya memberikan manfaat yang luar biasa. Berkumpul dengan mahasiswa dari universitas lain, mendengarkan berbagai inovasi-inovasi pemimpin kota, mendengarkan kisah sukses penggiat komunitas, membangun relasi dengan kolega, dan yang sangat membekas berbagi informasi penting tentang dua negara melalui kuis yang sangat lucu pada saat makan malam bersama. Menyenangkan, hangat, dan lucu sebagai gambaran dari perjalanan dua hari tersebut. Kegiatan ini adalah salah satu bentuk kreatif dalam membangun hubungan antar kedua negara.

Setelah perjalanan yang singkat itu, saya memiliki definisi inovasi bagi diri saya sendiri. Inovasi adalah suatu bentuk hasil perubahan dari suatu kegiatan kreatif yang memberi manfaat kepada komunitas di dalamnya. Seperti contoh yang telah saya sebutkan diatas, Bu Risma menghasilkan inovasi untuk mengatasi permasalahan tentang pelayanan publik yang tidak terpikirkan oleh pemimpin kota lainnya. Ide tersebut muncul dari mimpi untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakatnya. Mimpi melihat seorang yang tua renta tidak perlu mengantri hanya untuk mengakses pelayanan publik yang dikelolanya. Dari mimpi Ibu Risma itu, masyarakat Surabaya menjadi melek teknologi yang pada akhirnya membawa perubahan perilaku sosial masyarakat menjadi lebih baik.

Pemikiran-pemikiran inovasi beliau inilah yang akan terus kami (mahasiswa) dengungkan bahwa inovasi di negara Indonesia sangat mungkin dilakukan. Saling menunggu dan tidak berbuat sesuatu adalah budaya masyarakat Indonesia yang harus dihilangkan bila ingin menjadikan bangsa Indonesia yang kuat. Jangan tutup pikiran kreatifmu dengan logika. Biarkan kepercayaan diri muncul dalam dirimu dan biarkan ide berkembang di angkasa dan tidak ada batasan. Karena ide kreatif tidak memiliki batasan. Inovasi akan bermanfaat bila masyarakat dilibatkan.

Claudia Tyas Nugraheni dan Ibu RismaDan akhirnya, saya dapat selfie bersama dengan walikota Kota Surabaya, salah satu inovator kota di Indonesia. Semoga banyak sosok seperti beliau yang selalu membagi semangatnya kepada mahasiswa untuk dapat melakukan inovasi demi negara dan komunitasnya. You rock Ibu!!