Essay Series: ‘Ode untuk ‘keaustraliaan’ saya’ by Sanaz Fotouhi

Posted on November 14, 2016

SanazFotouhi

Esai ini merupakan bagian dari serangkaian ditugaskan oleh Pusat Australia-Indonesia, termasuk penulis terkemuka dan komentator dari Indonesia dan Australia masing-masing, yang memeriksa secara dekat masyarakat mereka sendiri, budaya dan situasi politik.

Diterjemahkan oleh Lily Yulianti Farid

Sebagai seorang anak yang besar di Iran di akhir tahun 1980an, serial TV Skippy, The Bush Kangaroo yang telah dialihsuarakan dan disensor, yang berkisah tentang anak laki-laki tampan bernama Sonny, yang wajahnya penuh bercak merah, kulit putih, mata biru, yang tinggal bersama keluarganya di pedalaman dengan hamparan semak, mewakili gambaran tentang Australia dan identitas Australia bagi saya.

Waktu itu saya beranggapan, setiap orang di Australia pasti penampilannya seperti Sonny. Besar di sebuah negara dimana identitas nasional ditentukan semata oleh tempat kelahiran, tak pernah terbayangkan oleh saya, bahkan dalam khayalan terliar sekalipun, seseorang yang orangtuanya tidak lahir di Iran, dan tidak bisa berbahasa Parsi, datang ke negara saya, tinggal di sana, dan secara sah menjadi ‘orang Iran’. Juga, tidak bisa saya bayangkan, saya yang berambut hitam, kulit berwarna seperti buah zaitun seperti layaknya gadis-gadis Iran lainnya, suatu hari dianggap sebagai orang Australia, seperti halnya Sonny dan keluarganya.

Setelah menjalani hampir sepertiga hidup saya di Australia, kini saya menganggap diri saya sebagai orang Australia. Dan hal ini terkadang masih sering membuat saya terkejut sendiri.

“Saya ingin memahami apa yang muncuI dalam benak saya di saat saya begitu tegas menolak identitas keaustraliaan saya.”

Rasa terkejut itu terjadi lagi baru-baru ini ketika saya diminta untuk menulis esai ini. Ketika Jemma, editor seri esai ini, yang waktu pertama kali saya bertemu dengannya, mengatakan bahwa ia tengah mengumpulkan esai tentang identitas Australia dan Indonesia lalu meminta saya untuk ikut menulis esai, saya sempat kebingungan beberapa menit hingga saya menyadari, ‘oh mungkin yang dimaksud oleh Jemma, saya menulis sebagai seorang penulis Australia’. Lalu tanpa banyak pikir saya berujar, ‘tapi saya bukan orang Australia’. Begitu kalimat tersebut keluar dari bibir saya, Jemma memukul meja dan berkata, ‘Tentu saja kamu orang Australia!’

Maka, saya memutuskan bahwa ini yang akan menjadi pembahasan utama dalam esai ini. Saya ingin memahami apa yang muncuI dalam benak saya di saat saya begitu tegas menolak identitas keaustraliaan saya. Dan apa sebenarnya makna menjadi orang Australia?

Waktu saya pindah ke Australia di pertengahan tahun 2000an, selama beberapa tahun pertama, sebagian besar perjumpaan saya dengan orang lain, di luar komunitas Iran dan kelompok migran lainnya, selalu disertai dengan rasa ingin tahu orang tentang asal usul saya. Ketika saya menjelaskan bahwa saya berasal dari Iran, maka pertanyaan orang-orang hampir selalu mengarah pada hal-hal yang didasarkan oleh asumsi bahwa saya meninggalkan negara saya karena kehidupan di sana tidak cukup baik, khususnya untuk perempuan. Meski saya menjelaskan bahwa kepindahan saya ke Australia adalah kisah yang unik, yang dimulai dengan karir ayah saya sebagai seorang bankir yang bertugas di luar negeri. Meski saya menunjukkan sikap resisten terhadap pertanyaan-pertanyaan semacam itu, namun tidak terelakkan pada akhirnya saya menjawab, ‘ya, kehidupan di negara saya bukanlah kehidupan yang terbaik’.

Tapi jawaban ini, asumsi bahwa setiap orang yang pindah ke Australia memutuskan pindah karena kehidupan di negara asal mereka tidak cukup baik, selalu mengusik saya.

Tidak dipungkiri bahwa banyak orang yang dipaksa keluar dari negara mereka karena mengalami kekerasan dan hidup mereka berada dalam ancaman yang serius. Tidak bisa juga dipungkiri bahwa hidup di Australia lebih mudah dan nyaman dibandingkan di banyak tempat di dunia ini. Di sini, orang tidak perlu terlalu khawatir soal layanan kesehatan dan medis, pendidikan, akses terhadap berbagai jasa dan barang, yang sulit diperoleh di negara lain. Memang benar bahwa Australia menawarkan berbagai keuntungan dan banyak kaum migran yang memilih untuk datang ke sini untuk menikmati apa yang disebut sebagai ‘kehidupan yang baik’. Namun, apa yang mengusik saya, karena asumsi ini mengabaikan banyak aspek menarik lainnya dari sebuah budaya dan negara yang ditinggalkan, entah ditinggalkan karena pilihan atau karena merupakan suatu kebutuhan, di mana Australia (atau negara lain yang dipilih untuk bermigrasi) tidak bisa menawarkan aspek-aspek tersebut kepada para migran.

Memiliki akses terhadap layanan terbaik, pusat-pusat perbelanjaan yang begitu banyak dengan berbagai barang bermerek, peraturan yang ditegakkan dengan baik hingga membatasi dorongan seseorang untuk melanggar, tidak selalu bisa diartikan sebagai kehidupan yang baik. Menjalani kehidupan yang baik terkadang ditemukan saat kita menyantap makanan yang terasa akrab, yang dijajakan di pinggir jalan, yang warung atau gerobak penjualnya tidak memiliki izin dan dimasak oleh seseorang yang tidak mencuci tangan. Bisa jadi kehidupan yang baik itu adalah karena kita memiliki sepupu dan keluarga yang dapat menelepon atau datang tanpa janji sebelumnya, di suatu Minggu sore; atau kehidupan yang baik itu muncul justru saat kita putus asa menghadapi pagawai bank yang malas, penjual roti atau penjaga warung yang ogah-ogahan, atau pengemudi taksi yang cemberut dan membuat kita harus menguji kesabaran. Kehidupan yang baik mungkin berarti saat kita mudah mendapatkan buku yang ditulis dalam bahasa kita sendiri, tanpa perlu pergi ke toko ‘etnis’; atau bahkan saat kita bisa menghindari denda dari polisi karena peraturan bisa dimainkan. Hidup yang baik adalah tentang perasaan terhubung dengan budaya yang mengakar dan dipahami dengan baik, yang membawa perasaan bahagia, kepuasan dan kedekatan.

Menjalani ‘hidup yang baik’ tidak selalu identik dengan layanan, fasilitas dan tata tertib yang sempurna, atau bahkan pekerjaan dan pendidikan yang baik, dan hal-hal eksternal lainnya yang bagi kita, yang hidup di tengah masyarakat kapitalis dan materialistis, dihargai begitu tinggi. Setelah lima tahun hidup di negara yang baru, mendapatkan pekerjaan yang baik, membeli mobil yang baik, hidup dengan jaminan yang baik, yang ditawarkan di sini, para migran kerap mulai merasa ada sesuatu yang hilang. Perasaan akan adanya sesuatu yang hilang adalah aspek lain yang menjadi bagian dari sebuah kehidupan yang baik; hal-hal ini tidak dapat kita transfer ke Australia. Kita bisa mencoba untuk mereplikasi hal-hal tersebut, hampir semuanya. Tapi tidak akan pernah sama.

Bagi saya, tantangan dalam menemukan tempat dan identitas di Australia, terletak pada sikap dasar yang saya pegang. Sembari mengakui bahwa benar ada hal-hal buruk yang terjadi di tengah masyarakat, di negara yang mereka ditinggalkan para imigran, tapi hal itu tidak lantas berarti bahwa orang lain berhak mendevaluasi hal-hal baik yang ada pada suatu budaya atau negara lain. Karena bagaimana pun, selalu ada hal baik di negara yang ditinggalkan itu.

Maka, selama bertahun-tahun saya bahkan menjadi lebih defensif dan protektif terhadap identitas saya sebagai orang Iran dan selalu ingin menunjukkan sisi-sisi baik dari budaya saya. Karena itulah, di Australia saya membangun kebiasaan untuk berkata, ‘Saya berasal dari Iran’ dan selalu siap dengan langkah justifikasi untuk menjelaskan mengapa kehidupan di sana tidaklah seburuk yang orang bayangkan. Menjadi orang Australia, atau bahkan menyatakan diri sebagai orang Australia dan bukannya memperkenalkan diri sebagai orang Iran, tidak pernah terlintas sama sekali dalam pikiran saya.

Demikianlah yang terjadi, hingga saya menjadi warga Australia yang sah. Sekarang, saya memiliki ikatan yang sah dengan negara ini. Saya bisa memilih untuk berpartisipasi dalam sebuah sistem yang memberikan kemerdekaan, ambil bagian dalam proses demokrasi untuk mengubah hal-hal yang tidak saya sukai dalam sistem itu.

“…bagi staf perempuan di sebuah spa di Indonesia yang meminta bukti identitas,  keaustraliaan saya meragukan.”

Ikatan yang baru ini makin jelas di saat saya bepergian ke luar negeri, di mana saya menemukan diri saya menginginkan identitas keaustraliaan itu, meskipun jarang berhasil. Bagi resepsionis hotel di India dan Thailand, atau bagi staf perempuan di sebuah spa di Indonesia yang meminta bukti identitas, keaustraliaan saya meragukan. Sebagaimana halnya diri saya yang besar di sebuah negara di mana ras dan identitas nasional ditentukan dengan sangat jelas dan didefinisikan secara tegas, saya paham bahwa bagi orang-orang ini, untuk percaya bahwa seorang perempuan berkulit cokelat seperti saya adalah seorang Australia, tentulah tidak mudah.  Tanggapan saya, yang biasanya saya jelaskan dengan cukup polos, adalah dengan menyebut bahwa saya sebenarnya berasal dari Iran.  Meskipun saya tentu saja sudah terbiasa dengan pertanyaan tentang identitas saya, yang berbeda dari peristiwa ini karena tidak ada senyuman cengar-cengir atau penghakiman mengapa saya meninggalkan negara kelahiran saya. Justru yang terjadi sebaliknya. Terlepas dari dokumen perjalanan legal yang memungkinkan saya mendapatkan kebebasan dan kemudahan yang lebih besar untuk bepergian sebagai pemegang paspor Australia, yang membuat orang di luar negeri heran adalah mengapa saya memilih untuk dianggap sebagai orang Australia, padahal saya berasal dari negara yang indah dan kaya budaya seperti Iran.

Di Melbourne, tempat saya tinggal, meski saya memiiki akte resmi sebagai warga negara Australia dan juga paspor Australia, saya tetap ditanya oleh orang-orang tentang identitas ‘asli’ saya. Saya terus menjadi defensif mengenai hal ini, dan sungguh saya menyangkal identitas Australia saya.

Lantas mengapa hal ini terjadi? Merenungkan hal ini, saya merasa ada faktor ketakutan yang juga turut berperan. Bila melihat diri saya ke belakang, selama bertahun-tahun, dalam tingkatan tertentu, saya menjadi ‘orang Australia’, dalam arti yang lebih dalam dari sekadar status hukum. Meski belum pernah sekalipun saya menonton pertandingan footy – sepakbola khas Australia – atau benar-benar suka menyantap meat pie atau pia daging khas Australia, saya sudah cukup beradaptasi dengan beberapa bagian dari budaya dan bahasa setempat, hingga saya dianggap ‘cukup Australia’ oleh orang-orang yang datang dari negara lain. Saya sangat menikmati brunch – waktu makan di antara sarapan dan makan siang – dengan menu alpukat dan keju fetta, selera yang tidak biasa bagi mereka yang baru di negara ini, dan saya menggunakan kata ‘reckon’ dan karenanya dengan mudah dikenali sebagai orang Australia oleh seseorang yang berasal dari Amerika. Saya yakin banyak hal lainnya yang bahkan tidak saya sadari membuat saya bisa dikenali sebagai orang Australia oleh mereka yang tidak berasal dari negara ini. Melihat elemen-elemen Australia ini sudah tidak terbantahkan telah menjadi bagian dari diri saya sekarang, menurut saya, hal yang lebih saya takuti daripada memiliki identitas Australia saya, barangkali, adalah ketakutan bahwa identitas Australia ini akan menghapus identitas saya sebagai orang Iran.

Bagaimana saya bisa menyeimbangkan kedua identitas ini, memiliki identitas yang baru tapi tidak kehilangan identitas lainnya?

Setelah merenung, saya pikir, barangkali ada pendekatan lain, yakni dengan cara mengingat dan menerima fakta bahwa ‘menjadi orang Australia’, tidak sama halnya dengan ‘menjadi orang Iran’, menjadi orang Australia bukanlah pengertian sempit yang diperoleh karena lahir di Australia.  Selain orang pribumi Australia, orang pertama yang ada di benua ini, orang lainnya yang mengklaim diri sebagai orang Australia pada dasarnya adalah pendatang, ada yang lebih dahulu datang dibanding yang lainnya. Dan bagaimanapun, model multikulturalisme seperti ini – meskipun telah mengalami perubahan bentuk dan warna dari satu dekade ke dekade berikutnya – membentuk identitas bangsa dan negara Australia yang moderen. Kita, yang sekarang tinggal di sini, tahu akan hal itu saat ini. Meski terkadang komentar yang kita dengar dan interaksi sosial yang kita alami, membuat kita ragu bahwa kita menjadi bagian di dalamnya.

Namun, apa yang saya temukan adalah bahwa dengan sungguh-sungguh menerima kondisi multikultural Australia membuat kita lebih mudah mengklaim dan memiliki identitas Australia yang terintegrasi secara penuh. Hal ini berarti bahwa saya bisa menerima bahwa Sonny dan keluarganya, yang mungkin tiba beberapa generasi lebih awal dari sebuah negara di Eropa, bukan lorang Australia asli – dalam hal legal – seperti halnya saya, perempuan Iran yang tiba lebih belakangan.

Daripada membatasi representasi dan pemahaman tentang apa makna menjadi Australia, adalah penting untuk menerima dan mengakui keragaman dan perbedaan yang merupakan produk dari bangsa yang multikultural. Hal ini berarti, kita harus menerima bahwa tidak hanya ada satu cara untuk ‘menjadi’ orang Australia.

Proses menulis esai ini menjadi sebuah katarsis. Melalui perenungan di mana saya memahami identitas saya sendiri dan betapa indahnya menyadari bahwa elemen-elemen di tengah masyarakat membuka diri bagi Australia yang beragam dan hibrid. Saya juga sadar bahwa seperti inilah jalannya sebagaimana seharusnya. Daripada merasa malu atau khawatir karena saya tidak ‘cukup’ Australia, atau bahkan merasa takut bila saya menjadi orang Australia maka saya kehilangan identitas sebagai orang Iran, saya merasa beruntung bahwa saya bisa mempertahankan kedua identitas ini secara bersamaan. Meski, dalam menemukan cara untuk menyeimbangkan kedua identitas ini secara personal, dan bagaimana masyarakat Australia menanggapinya, saya masih terus bergulat mencari jawabannya.


Sanaz Fotouhi adalah penulis, pembuat film dan akademisi Iran-Australia. Ia meraih gelar PhD dalam bidang Sastra Inggris dari Universita New South Wales, Sydney. Minat penelitianya adalah mengenai narasi diasporik dan kaum migran. Bukunya yang berjudul The Literature of the Iranian Diaspora: Meaning and Identity since the Islamic Revolution diterbitkan pada bulan Maret 2015 (I.B. Tauris).  Sanaz adalah salah seorang pendiri Festival Film Persia di Australia, dan salah seorang produser film dokumenter yang telah meraih banyak penghargaan, Love Marriage in Kabul.  Sanaz saat ini menjabat sebagai Asisten Direktur Eksekutif Asia Pacific Writers and Translators, (www.apwriters.com).