Bogor tunjukkan potensi besar Indonesia

Posted on June 20, 2018 By Harold Mitchell AC

Lawang Salapan, Bogor.

Hari sudah gelap pada Minggu malam. Hujan turun dan ketika mobil kecil kami memasuki jalan satu arah, saya merasa benar-benar tersesat.

Ketika jalan menyempit saya mulai merasa klaustrafobik, apalagi dengan banyaknya warga di sekeliling mobil kami. Akhirnya, kami tidak bisa bergerak maju lagi. Saya meraih tangan Louise dan dia berkata kepada saya “Tidak apa-apa, jangan khawatir”. Entah bagaimana caranya, sopir kami akhirnya berhasil putar balik dan kami kembali menyusuri jalan satu arah itu.

Kami berada di daerah kota lama Bogor yang merupakan pusat budaya, ekonomi dan pariwisata yang penting di Jawa, yang pada masa kolonial Belanda dikenal sebagai Buitenzorg. Anehnya, nama ini punya arti “tanpa khawatir”.  Sungguh “tidak apa-apa!”.

Tanpa rasa khawatir dan dengan antusiasme yang besar, saya berada di Bogor untuk menghadiri konferensi dua hari The Australia-Indonesia Centre.

Meskipun kami di Australia suka berfokus pada perbedaan antara budaya dan masyarakat kami, penting untuk diketahui bahwa Indonesia dan Australia sama-sama memiliki masa lalu kolonial dan masa depan pasca-kolonial.

Kita bisa ambil contoh kota Bogor. Pada masa pemerintahan Belanda kota ini menjadi tuan rumah sekolah pertanian terbesar di Jawa serta markas besar Perusahaan India Timur Belanda di Asia. Kota ini juga sempat diduduki oleh Jepang pada masa Perang Dunia II. Keberhasilan bangsa Indonesia untuk menghadapi berbagai tantangan kolonial dan berkembang menjadi negara merdeka yang kuat sungguh luar biasa.

Dengan populasi sekitar satu juta penduduk, kota Bogor, seperti kota-kota lain di Indonesia, sedang booming. Kota ini memiliki basis industri yang kuat di bidang kimia dan pertanian. Selain itu, di kota ini tidak ada kekhawatiran akan krisis energi. Listrik disediakan oleh lebih dari 10 pembangkit listrik tenaga air dan panas. Bahkan, Bogor adalah salah satu dari empat situs di Indonesia yang dipilih pemerintah nasional pada tahun 2012 untuk produksi energi panas bumi.

Tanpa menggunakan bahan bakar, energi panas bumi aman dan bersih. Komitmen Indonesia terhadap sumber energi ini akan segera mengambil alih posisi Amerika Serikat sebagai produsen tenaga panas bumi terbesar di dunia dalam satu dekade. Sungguh Energi Bersih 2.0.

Selain itu, dengan lebih dari setengah 250 juta penduduk Indonesia di bawah usia 30 tahun, negara yang sedang booming ini akan menyusul Australia sebagai ekonomi terbesar ke-13 di dunia dalam kurun waktu satu dekade.

Indonesia akan menjadi ekonomi terbesar ke-empat di dunia pada tahun 2050.

Ciliwung River, Bogor

Pada tahun 1980-an, perusahaan media saya bekerja di Indonesia dan saya merasakan bahwa perkembangan negara ini sedang melaju dengan cepat, namun sebagai Ketua Dewan Direksi The Australia-Indonesia Centre saya masih terkejut sekaligus gembira dengan semangat dan kehangatan tetangga terbesar kami. Penelitian terbaru oleh The Australia-Indonesia Centre menunjukkan bahwa warga Indonesia cenderung memiliki perspektif yang positif tentang Australia, tetapi sayangnya persepektif warga Australia terhadap Indonesia masih cenderung lebih negatif. Ini adalah sesuatu yang akan terus kita perbaiki, terutama melalui peningkatan hubungan antarlembaga pendidikan. Hal ini juga akan didorong melalui pariwisata dimana wisatawan Australia telah menyumbangkan AUD$ 2 miliar per tahun kepada ekonomi Indonesia.

Namun, yang diketahui warga Australia tentang Indonesia biasanya hanya terbatas pada Bali. Itulah sebabnya saya membawa grup konferensi kami ke kota lain di Indonesia seperti Bogor. Dan untuk alasan itu juga pemerintah Australia mendukung Indonesia untuk mengembangkan pariwisata dengan menciptakan apa yang disebut oleh Presiden Widodo sebagai “10 Bali Baru”.

Pada saat ini pemerintah Indonesia dan Australia sedang bekerja keras untuk menyelesaikan perjanjian perdagangan bebas yang penting bagi hubungan kedua negara. Keinginan dari kedua negara untuk menyelesaikan perjanjian ini sangat kuat, namun ada juga banyak kesulitan yang bisa menghambat proses ratifikasi.

Meski demikian, tidak bisa kita pungkiri bahwa kedua negara ini saling membutuhkan. Kebanyakan warga Australia akan berpendapat bahwa ada banyak yang bisa dikontribusikan Australia kepada Indonesia, tetapi sebenarnya ada banyak juga yang bisa Indonesia berikan kepada Australia. Perkembangan ekonomi digital yang begitu pesat telah membuat beberapa wilayah di Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi lebih dari 10 persen per tahun.  Gary Quinlan telah diangkat sebagai Duta Besar Australia untuk Indonesia yang baru. Beliau adalah seorang staff senior di Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia. Beliau didukung oleh Wakil Duta Besar Allaster Cox, yang juga sempat menjabat sebagai mantan duta besar Australia untuk Vietnam. Bersama dengan Menteri Perdagangan Steve Ciobo, tim ini harus mampu menyelesaikan perjanjian perdagangan baru dengan Indonesia. Untuk beberapa pihak hal ini berarti kita harus beberapa kali putar balik, tetapi pengalaman saya pada Minggu malam di jalanan kecil Bogor mendorong saya untuk berpikir bahwa kami bisa melakukannya.

Artikel Bahasa Inggris: The Sydney-Morning Herald

Harold Mitchell AC

Harold Mitchell AC

Chair

Australia-Indonesia Centre